Fenomena Aneh Ada Salju Merah Darah di Gunung Alpen

Jakarta - Di atas Pegunungan Alpen, Eropa, yang tingginya ribuan meter di atas permukaan laut, salju yang biasanya berwarna putih terkadang tampak bernoda merah darah. Salju merah darah ini memanjang sampai beberapa kilometer.

Tapi tunggu dulu, kamu jangan berpikir rona merah darah pada salju itu bekas pembantaian yang terjadi di puncak. Warna merah ini berasal dari mikroalga yang hidup di salju, dan baru-baru ini para ilmuwan melakukan perjalanan ke Pegunungan Alpen untuk mempelajari mikroorganisme misterius tersebut.

Ekspedisi ini merupakan bagian dari proyek AlpAlga, upaya untuk mempelajari mikroalga yang hidup di pegunungan dengan ketinggian sekitar 1.000 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).

"Sama seperti mikroalga yang menghuni lautan, danau, dan sungai, mikroalga yang hidup di salju bisa membantu membentuk jaringan makanan ekosistem pegunungan dan kemungkinan bereaksi terhadap polusi dan perubahan iklim dengan cara yang sama," kata Eric Maréchal, koordinator AlpAlga yang juga merupakan konsorsium dan direktur di Research laboratory of Cellular as well as Plant Physiology di Grenoble, Prancis.

"Masyarakat mendapat petunjuk tentang keberadaan alga di lautan, tetapi kurang menyadari mikroorganisme terkait yang hidup di tanah di puncak gunung dan di salju yang terakumulasi di ketinggian itu."

Secara umum, sel mikroalga hanya berukuran seperseribu milimeter dan mereka dapat hidup sebagai organisme sel tunggal atau koloni. Mereka menjadi santapan banyak hewan, secara langsung maupun tidak langsung, baik di salju maupun di lautan.

Mikroalga yang berubah menjadi salju secara teknis adalah ganggang hijau, namun karena mereka termasuk dalam filum Chlorophyta dan mengandung bentuk spesifik klorofil, mereka bisa melakukan fotosintesis. Selain klorofil ganggang ini juga mengandung karotenoid, pigmen oranye dan merah yang sama seperti wortel.

"Karotenoid bertindak sebagai antioksidan dan kemungkinan melindungi ganggang dari efek merusak dari cahaya intens dan radiasi ultraviolet yang ditemukan di dataran tinggi," kata Maréchal.

Selama ganggang mekar, ketika sebagian besar ganggang tumbuh dengan cepat, salju di sekitarnya bisa tampak merah atau oranye karena akumulasi karotenoid terkait, inilah yang membuat gletser tampak seperti darah bekas pembantaian.

Sama seperti polusi kaya nutrisi yang memicu mekarnya alga di lautan, nutrisi yang dikirim ke puncak gunung dalam curah hujan dan angin secara teoritis dapat memicu mekarnya alga di Pegunungan Alpen, menurut Maréchal.

Selain itu, meningkatnya kadar karbon dioksida di atmosfer secara teoritis juga bisa memacu pertumbuhan alga. Meski hal ini baik untuk ganggang, perubahan tersebut dapat memicu efek bola salju yang berbahaya bagi ekosistem sekitarnya.

Menurut laporan yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada 2016, salju merah darah kurang efektif dalam memantulkan cahaya ketimbang salju putih. Oleh karena itu, salju darah punya laju pencairan lebih cepat. Faktanya, kemunculan salju merah di Pegunungan Alpen semakin sering terjadi seiring dengan perubahan iklim yang melanda seluruh dunia.

"Pada titik ini, apa yang kami pikirkan adalah bahwa ganggang mungkin merupakan penanda perubahan iklim, di mana pertumbuhan organisme mencerminkan peningkatan kadar karbon dioksida dan perubahan terkait di lingkungan," kata Maréchal.

Kendati hipotesis ini masuk akal, tapi belum ada cukup information untuk melacak bagaimana ganggang berubah seiring berjalannya waktu. Para peneliti lantas melakukan studi lebih lanjut.

Dalam studi baru yang terbit di jurnal Frontiers in Plant Science pada Senin (7/6), tim mempelajari prevalensi spesies mikroalga di lima lokasi berbeda di Pegunungan Alpen, Prancis, yang mencakup ketinggian antara 1.250 hingga 2.940 mdpl.

Mereka mengumpulkan sampel tanah di lima lokasi pada akhir musim panas 2016. Para peneliti juga mengekstraksi DNA lingkungan, memungkinkan mereka untuk menemukan materi genetik yang tersisa dari sel-sel alga yang mati dan rusak yang sebelumnya hidup di setiap daerah.

Tim mengeluarkan semua DNA alga dari sampel mereka, menentukan setiap spesies alga dan mendeteksi di mana alga itu hidup berdasarkan ketinggian, survei juga menunjukkan kondisi lingkungan yang disukai setiap spesies alga.

Misalnya, ganggang dari genus Sanguina penyebab salju merah biasanya muncul pada ketinggian 2.000 mdpl, sementara ganggang dari genus Desmococcus dan Symbiochloris hanya muncul di ketinggian rendah, di bawah 1.500 mdpl.

"Kami masih belum tahu kondisi lingkungan apa yang memicu mekarnya alga, termasuk bagaimana hilangnya salju mempengaruhi siklus hidup alga, atau bagaimana mekarnya alga mempengaruhi pencairan salju dan retret glasial, dalam skala besar," kata Maréchal.

Maréchal mengatakan Gletser yang mencair di daerah kutub sering menjadi berita utama karena dampaknya terhadap kenaikan permukaan laut.

Tetapi perubahan iklim juga berdampak besar pada gletser yang terkurung daratan di daerah pegunungan, di mana air glasial berfungsi sebagai reservoir untuk sistem sungai. Jadi, kata Maréchal, dalam jangka panjang, dampak perubahan iklim akan terasa di daerah pegunungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ronald Koeman Resmi di Pecat Dari Barcelona Usai Kalah Bertanding Melawan Rayo Vallecano

PSG Menaklukan Man City Pada Liga Champions 2-0

Tuan Rumah Piala AFF 2020 Masih Belum di Tentukan